Sulit menemukan hubungan antara musik dan sepak bola yang seerat Iron Maiden dengan West Ham United. Di East London, keduanya tumbuh dari lingkungan yang sama, berbagi akar kelas pekerja, dan selama puluhan tahun berkembang menjadi dua ikon budaya yang saling menghidupi.
Di balik hubungan itu, ada satu nama yang menjadi jembatan antara keduanya, yaitu Steve Harris. Pendiri sekaligus bassist Iron Maiden itu bukan hanya penggemar West Ham. Ia tumbuh bersama klub tersebut. Sejak kecil, Harris sudah berdiri di tribun Boleyn Ground untuk menyaksikan The Hammers bermain.
Kecintaan itu bermula pada 1965 ketika menyaksikan West Ham. "Saya menonton pertandingan West Ham melawan Newcastle ketika saya berusia 9 tahun dan teman saya berusia 10 tahun. Kami naik bus dan pergi ke pertandingan dan mereka menang 4-3. Dan sejak itu saya ketagihan!," kenangnya.
Kecintaan itu tidak pernah berubah meski Iron Maiden kemudian menjelma menjadi salah satu band heavy metal terbesar di dunia. Selama puluhan tahun, Harris membawa West Ham ke setiap panggung yang ia datangi. Logo The Hammers menghiasi bass yang selalu ia gunakan.
Bendera West Ham berkibar di belakang panggung konser Iron Maiden di berbagai belahan dunia. Bahkan tidak sedikit penggemar Maiden yang mulai mengikuti West Ham hanya karena melihat kecintaan Harris terhadap klub tersebut. "Saat saya melihat ada penonton mengenakan jersey West Ham di konser kami, rasanya merinding," ujar Harris.
Fenomena itu akhirnya disadari oleh pihak klub. Suatu musim panas, toko resmi West Ham dipenuhi penggemar rock dari berbagai negara. Mereka datang bertepatan dengan dua konser Iron Maiden yang berlangsung di O2 Arena, London. Dari situ muncul sebuah gagasan sederhana dengan menggabungkan dua simbol East London dalam satu identitas.
Kolaborasi itu diberi nama Die With Your Boots On, diambil dari lagu Iron Maiden yang dirilis pada 1983. Harris tidak sekadar meminjamkan nama bandnya. Ia ikut mengawasi setiap detail desain jersey tersebut. Baginya, warna claret and blue, lambang klasik West Ham, hingga sentuhan retro harus tetap dipertahankan.
Jersey itu kemudian dikenakan Harris bersama bek West Ham saat itu, Pablo Zabaleta, sebagai simbol bahwa musik dan sepak bola bisa berbicara dalam bahasa yang sama. "Saya menyukai desainnya. Modern, tetapi tetap terasa klasik. Persis seperti yang saya inginkan." ungkapnya.
Hubungan Iron Maiden dan West Ham tidak berhenti pada satu kolaborasi. Pada 2025, keduanya kembali merilis jersey edisi khusus untuk merayakan dua peristiwa penting yang sama-sama lahir pada 1975: kemenangan West Ham di Final Piala FA dan lima puluh tahun berdirinya Iron Maiden.
Jersey tersebut memadukan identitas keduanya. Warna merah marun dan biru khas The Hammers berpadu dengan logo Iron Maiden di bagian dada. Di bagian belakang tertera nomor 11 milik Steve Harris, sementara logo Hammer & Bass menjadi simbol penyatuan dua dunia yang selama ini berjalan berdampingan.
Peluncurannya terasa semakin emosional karena berlangsung setelah Iron Maiden menggelar konser yang tiketnya terjual habis di London Stadium, markas West Ham saat ini. Di hadapan lebih dari 65 ribu penonton, Steve Harris naik ke atas panggung mengenakan jersey tersebut.
Tak lama kemudian, maskot legendaris Iron Maiden, Eddie, ikut muncul dengan seragam yang sama. "Hari itu benar-benar istimewa," kata Harris. "Saya baru menyadarinya setelah semuanya selesai. Kami sudah mengenakan jersey itu di berbagai pertandingan sepak bola selama tur di Eropa, jadi rasanya memang sudah seharusnya kami memakainya di sini." sambungnya.
Bagi Harris, momen itu memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar konser. West Ham adalah bagian dari masa kecilnya. Ia bahkan pernah menimba ilmu di akademi junior klub tersebut. Menjuarai Piala FA 1975 menjadi salah satu kenangan paling berharga, "Saya tidak ada di stadion hari itu. Tetapi saya tidak akan pernah melupakan kemenangan itu."
Hubungan Iron Maiden dan West Ham kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jarang ditemukan dalam sepak bola modern. Biasanya sebuah band hanya menjadi pengisi acara sebelum pertandingan atau sekadar diputar melalui pengeras suara stadion.
Iron Maiden melangkah lebih jauh. Mereka menjadi bagian dari identitas visual West Ham. Logo band muncul di jersey resmi klub. Maskot Eddie hadir di London Stadium. Steve Harris berdiri di atas panggung mengenakan warna kebanggaan The Hammers.
Sementara ribuan pendukung West Ham memenuhi konser Iron Maiden dengan jersey merah marun dan biru. Di East London, batas antara musik dan sepak bola memang tidak pernah benar-benar ada. Iron Maiden lahir dari jalan yang sama dengan West Ham. Keduanya tumbuh bersama budaya kelas pekerja, membawa semangat loyalitas yang sama, dan tetap bertahan selama puluhan tahun tanpa kehilangan identitasnya.
Mungkin itulah alasan mengapa ketika Steve Harris berteriak, "Come on, you Irons!", kalimat itu terdengar sama lantangnya di stadion maupun di atas panggung. Sebab bagi Iron Maiden, West Ham bukan sekadar klub sepak bola. West Ham adalah rumah dan selalu mereka bawa ke mana pun mereka pergi.