Ada banyak foto ikonik dalam sejarah sepak bola. Salah satunya adalah ketika Marcos Cafu mengangkat trofi Piala Dunia 2002 bersama Brasil di Yokohama, Jepang. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada sesuatu yang menarik di bagian jersey kuning yang dikenakannya.
Jersey kuning yang dikenakannya ditulis dengan spidol hitam, "100% Jardim Irene". Banyak orang mengira itu adalah pesan pribadi atau ucapan untuk seseorang yang spesial. Padahal, Jardim Irene bukanlah nama seseorang. Jardim Irene adalah sebuah kawasan sederhana di Sao Paulo, Brasil.
Jardim Irene adalah tempat Cafu tumbuh besar. Tempat di mana mimpi menjadi pesepakbola profesional pertama kali lahir. Tempat ini bukanlah sebuah kota, melainkan lingkungan di wilayah Sao Paulo. Jika diterjemahkan secara kasar, posisinya mirip seperti kampung atau kawasan pemukiman padat di pinggir kota besar.
Pada era 1970-an dan 1980-an, saat Cafu tumbuh besar, Jardim Irene dikenal sebagai kawasan kelas pekerja dengan infrastruktur yang jauh dari ideal. Lapangan sepakbola bukan bertempat di stadion megah, melainkan tanah kosong, jalanan sempit, atau lapangan komunitas yang seadanya.
Di wilayah inilah, banyak anak Brasil belajar sepakbola. Bukan lewat akademi elit, tapi melalui pertandingan antar kampung yang keras dan kompetitif. Cafu sendiri pernah bercerita bahwa sepakbola jalanan, menjadi sekolah pertamanya sebelum masuk ke level yang lebih serius.
"100% IRENE. Orang-orang masih ingat slogan yang saya tulis di jersey saya ketika memenangkan Piala Dunia 2002 sebagai kapten Brasil. Irene adalah lingkungan tempat saya lahir, tempat saya dibesarkan, tinggal sepanjang masa kecil hingga usia 22 tahun lingkungan miskin dan terpencil, tetapi penuh dengan orang-orang baik, yang bersedia memberikan kembali kepada masyarakat," Cafu - El Grafico.
Cafu sempat ditolak berkali-kali oleh akademi sepakbola. Dikabarkan ia mengalami lebih dari sembilan penolakan sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan yang mengubah hidupnya. Namun seperti banyak kisah besar dalam sepakbola, kegigihan yang sering kali lebih penting daripada bakat semata.
Tahun demi tahun berlalu. Cafu berkembang menjadi salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki Brasil. Ia bermain di level tertinggi, meraih berbagai gelar bersama AS Roma serta AC Milan, dan menjadi satu-satunya pemain yang tampil di laga final Piala Dunia secara beruntun 1994, 1998, dan 2002.
Puncaknya datang pada malam di Yokohama, Ketika seluruh dunia melihat seorang kapten Brasil mengangkat trofi emas, Cafu justru memilih memperlihatkan sesuatu yang lebih profesional. Yaitu nama kampung tempat semulanya bermula, 100% Jardim Irene.